Menyebut Satu Hal, Melupakan Banyak Hal

Yudi Wahyudin

A: orang yang ibadahnya karena surga dan neraka termasuk ibadah yang tidak ikhlas

B: Lalu karena apa ibadah kita?

A: Karena Allah semata

B: Maksudnya?

A: Periksa surat al-lail, ayat 20 “Kecuali mengharap ridha Allah yang Maha Tinggi.”

B: Kau sebut satu hal, tapi melupakan banyak hal

A: Maksudnya?

B: Kau sebut ridha Allah, tapi kau lupakan bagaimana ridha Allah itu

A: Sederhana saja, ridha Allah itu kasih sayangnya.

B: Bukan itu maksud saya. Menjelaskan ridha dengan kasih sayang tidak jauh berbeda dengan penjelasan, “apa itu dengki? dengki itu adalah iri.”

A: Ok, maksudmu bentuk konkritnya?

B: Yup

A: Hanya Allah yang tahu

B: Betul, hanya Allah yang Mahatahu. Tapi Allah telah memberi tahu apa yang tidak kita ketahui. Kenapa tidak jelaskan saja seperti yang telah Allah jelaskan?

A: Maksudmu?

B: Jika kau sebut Surat al-Lail, artinya kau telah baca juga Surat Al-Insan? Atau kamu hanya baca surat al-Lail saja? Belum lagi ayat-ayat lain sebelum surat al-Insan? Telah banyak kamu lewatkan?

A: Bagaimana bunyi ayatnya?

B: A’udzubillâhminasyaithânirrajîm, “Mereka memberikan makanan kepada orang yang membutuhkannya dari kalangan orang miskin, yatim, dan para tawanan. (Kemudian mereka berkata), Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insân, 9)

A: Jadi maksud ayat ini?

B: Mereka yang ikhlas beramal adalah yang amalnya bukan karena dunia; ingin mendapatkan balasan manusia, ucapan syukur, serta penghargaan mereka. Adapun balasan, ucapan syukur, dan penghargaan dari Allah justru itu yang harus diharapkan. Tahukah balasan dari Allah? Surga bagi yang bertaqwa, neraka bagi yang durhaka.

A: Ckckck…begitu ya, jadi saya harus bagaimana?

B: Cukup mengucap, “Astaghfirullah, Mahasuci Engkau ya Allah, kami tidak memiliki ilmu kecuali apa yang telah Engkau ajarkan.”

Comments are closed.

Follow Me Tweeps!